Kamis, 08 Januari 2015

       Takut vs Segan


        Kulangkahkan kaki menuju kelasku yang terletak di bagian belakang, keriuhan anak-anak yang sedang bermain di lapangan merupakan pemandangan yang tak asing lagi bagiku. Setiap hari itulah yang terlihat. Anak laki-laki yang asyik bermain bola, kejar-kejaran, dan permainan lainnya yang tidak kupahami. Di sisi lain sekumpulan anak perempuan juga sedang menikmati aroma pagi dengan bermain lompat tali. Beberapa anak bahkan terlihat menikmati hidangan yang dijajakan di kantin sekolah.

Melihat bayanganku, terlihatlah siswa-siswaku berhamburan dan berlarian memasuki kelas. Salah seorang siswa berlari sambil berteriak, “ada ibu, ada ibu”.
      “Assalamualaikum”, ucapku ketika memasuki ruangan kelas IV yang diamanahkan padaku untuk menjadi wali kelas. “Waalaikusalam wr.wb”, jawab mereka serentak. Setelah itu suasana kelas terlihat hening, tak ada suara sedikit pun. Hanya helaan nafas mereka yang terdengar.  Kutatap mereka satu persatu, namun yang kudapati mereka semua tertunduk dengan tangan terlipat di atas meja masing-masing. Sebuah pemandangan yang membuatku merasa ditampar. Segitu kejamkah saya sebagai guru ? sekedar untuk melihatku pun mereka takut. Ach pasti ada yang salah padaku.  
Sebuah pertanyaan besar muncul di kepalaku. Mereka takut atau segan ?
Entahlah ! 
      Kucairkan suasana dengan mengajak mereka bermain sambil menceritakan pengalaman lucu yang pernah mereka alami. Suasana gaduh pun tercipta dengan celotehan-celotehan konyol mereka.
Ternyata mereka anak-anak yang hebat.
Begitu banyak pelajaran berharga kudapat lewat kalian. 

Anak-anakku semangatmu adalah senyumku….

2 komentar:

  1. Tak ada salahnya tuk sesekali seorg guru mengalah dan menempatkan diri mereka sebagai siswa. Gimana rasanya ditakuti? bukan disegani? seorg guru bebas memilih, ia ingin dikenang kelak seperti apa oleh siswa2nya.

    BalasHapus
  2. wah... wah... menarik... semangat doonng menulisnya!

    BalasHapus